Siswi SMAN 4 Surakarta Ciptakan Inovasi Bed Closet, Ide Awalnya dari Kakek Kena Stroke

Seorang siswi Kelas XII SMAN 4 Surakarta bernama Maria Margaretha Mayfa Zee Saptono berhasil membuat inovasi Bed Closet untuk membantu orang dengan keterbatasan mobilitas agar bisa buang air besar (BAB) di ranjang.

Inovasi itu muncul setelah selama sepuluh tahun, Zee hampir setiap hari melihat ayahnya merawat kakeknya yang hanya bisa terbaring di rumah karena stroke. Zee menceritakan ide awal menciptakan Bed Closet itu muncul pada 2025. 

Ia ingin membantu orang dengan keterbatasan mobilitas agar bisa BAB di atas ranjang karena melihat secara langsung betapa sulitnya ketika sang kakek harus buang air besar.

Zee mengaku ide itu datang setelah diskusi dengan ayahnya. Didampingi sang ayah, siswi Kelas XII SMAN 4 Surakarta itu mulai melakukan riset untuk inovasi Bed Closet. Ia membongkar berbagai jurnal ilmiah hingga melakukan observasi alat serupa di Internet untuk mencari referensi.

Konsep Bed Closet buatannya menggabungkan tempat tidur medis dengan toilet yang dilengkapi sistem air otomatis. Alat yang ia desain ini punya fitur cukup lengkap, yakni sandaran kepala otomatis, kasur geser otomatis untuk akses kloset, sistem flush, panel kontrol, remote 12 volt, dan saluran pembuangan langsung.

Proses Perakitan

Setelah melakukan riset yang cukup mendalam, Zee mulai melakukan perakitan. Ia membuat desain kasar sebelum dibuatkan desain 3D untuk mempermudah perakitan. Zee tidak merakit sendiri, ia dibantu jasa tukang.

Ia mengatakan proses merakitnya cukup lama karena harus melewati bongkar pasang. Total, ia membutuhkan sekitar tiga bulan untuk merakit alat tersebut, mulai Mei hingga Juli 2025.

Dalam mengimplementasikan desain awal menjadi produk jadi ternyata cukup sulit. Zee harus terus menyesuaikan kondisi dan kenyamanan pasien strok. Berkali-kali ia mengganti komponen agar lebih praktis.

“Penyesuaiannya banyak, awalnya tangki air di samping kiri, sekarang saya ubah ke belakang untuk memudahkan pergerakan pasien strok. Panel kontrolnya juga bisa di-customize di kiri atau kanan, menyesuaikan kondisi tangan pasien yang mengalami kelumpuhan. Sistem airnya pun bisa langsung terhubung ke septic tank,” jelasnya.

Hasil eksperimennya ini tidak hanya membutuhkan waktu yang lumayan lama, namun juga biaya yang tidak sedikit. Untuk mewujudkan prototipe ini, Zee harus merogoh kocek pribadi hingga Rp10 juta.

Biaya tersebut mencakup komponen alat, jasa tukang las, hingga jasa animator 3D untuk memvisualisasikan desain agar mudah dipahami teknisi.

Ayah Zee, Yulius Joko Saptono, mengatakan seluruh biaya yang dibutuhkan ditanggung keluarga. Baginya tidak masalah mengeluarkan uang demi mendukung penuh anaknya agar maksimal menelurkan karya.

Joko juga mendorong agar desain Bed Closet itu bisa didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Ke depan, ia ingin alat tersebut bisa diproduksi secara massal dan membantu para penderita strok.

“Harapannya alat ini bisa digunakan banyak orang, terutama pasien strok atau mereka yang kekurangan mobilitas,” katanya. Saat ini, Joko juga sudah mempertimbangkan untuk mencarikan pendanaan yang lebih banyak dari perusahaan.

Termasuk, jika memungkinkan ia berharap bisa kerja sama dengan Pemerintah Kota Surakarta melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kota Surakarta agar alat itu bisa disempurnakan.

Meraih Juara dan Dukungan Pemkot

Hasil karya Zee ini berhasil meraih juara dalam kompetisi Indonesian Young Scientists & Inventors Award (InYSIA) 2025 yang diselenggarakan di Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, mengatakan pemerintah siap mendukung karya inovasi siswa, termasuk dari sisi pembiayaan. Ia mengatakan karya inovasi siswa bisa diakomodasi melalui Brida.

Astrid mengakui dukungan finansial dari sekolah kadang terbatas untuk inovasi skala besar. “Minimal dengan adanya komunikasi dan informasi yang disampaikan kepada kami, kami akan menghubungkan dengan pihak atau stakeholder terkait,” ujar Astrid setelah meninjau inovasi Bed Closet di SMAN 4 Surakarta, Rabu (7/1/2026).

Astrid menjelaskan Pemkot Surakarta memiliki Brida yang bisa menjadi inkubator bagi karya-karya pelajar. Jika inovasi tersebut memang berdampak luas dan menjadi kebutuhan masyarakat, pemerintah bisa memfasilitasi pengembangannya.

“Kami memiliki Brida yang bisa memfasilitasi atau mengakomodasi. Landasan inovasi ada di kami, fokus di riset yang tidak hanya berfokus pada isu kota, tapi juga kebutuhan riil di masyarakat,” jelasnya.

Namun, jika anggaran pemerintah terbatas, Astrid siap menghubungkan inovator muda dengan perusahaan besar atau pihak swasta lain yang memiliki perhatian pada isu sosial.

“Saya yakin banyak di luar sana perusahaan besar bahkan filantropis yang memiliki perhatian sama. Sehingga kemanfaatan sosial ini yang menjadi fokus utama kami dalam mengusung talenta muda di Kota Surakarta,” katanya.

Sumber: https://solopos.espos.id/siswi-sman-4-solo-ciptakan-inovasi-bed-closet-ide-awalnya-dari-kakek-kena-strok-2178779